Sabtu, 17 September 2016

Baituzzakah Pertamina, Beasiswa Bazma 2016, Scholarship Baituzzakah Pertamina


            
Kontribusiku Untuk Indonesia

            Terlahir dari keluarga sederhana dengan seorang Ayah sebagai karyawan swasta, dan Ibu yang pernah menjadi seorang guru taman kanak-kanak membuat saya tumbuh dan besar sebagai seorang yang penuh dalam kesederhanaan.
            Kenyataan pahit ketika Ibu yang tak lagi mengajar dikarenakan minimnya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak mereka di taman kanak-kanak karena merebaknya PAUD, seakan  belum mau usai ketika suatu hari, masa itupun tiba. hari yang menyentak kehidupan dan penghidupan keluarga kami, ketika Ayah pun harus mendapatkan Pemutusan Hubungan Kerja, secara sepihak dari instansinya.
            Realita kehidupan menyatakan  Roda selalu berputar, ada kalanya berada diatas, ada kalanya pula akan dibawah. Lantas dimanakah dapat saya temukan pembenaran atas pernyataan yang berkata demikian? Yang pada kenyataannya kami terus dan terus jatuh kebawah. Usia Ayah yang kini sudah sekian, seakan tidak memberikan kesempatan meski hanya berupa pengharapan untuk mendapatkan pekerjaan lain.
            Meski dengan kondisi ekonomi yang terbilang jauh dari kata berkecukupan, namun Ayah, dengan segala cara, terus memampukan dirinya untuk menyekolahkan saya dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, hingga terhantarkanlah saya kini di Perguruan Tinggi.
            Satu hal yang menguatkan saya sampai saat ini adalah harapan. Pengharapan membuat kita yakin bahwa kita hidup. Dengan harapan, ada ambisi. Dengan harapan, ada yang menunggu untuk di jadikan nyata.
            Saya memiliki ambisi. Anak-anak Indonesia memiliki ambisi, untuk menjadi terdidik dan bukan tidak mungkin suatu hari nanti menjadi agen-agen pendidik. Namun dari semua ambisi, anak-anak Indonesia belum memiliki jaminan bahwa mimpinya akan terealisasi. Karena apa yang saya yakini adalah bahwasanya sangat banyak anak-anak Indonesia diluar sana yang juga mengalami dan merasakan apa yang saya alami dan rasakan, keterbatasan ekonomi. Begitu banyak Ayah dan Ibu lainnya diluar sana yang memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka untuk kehidupan dan penghidupan yang lebih baik dikemudian hari.
Indonesia adalah Negeriku. Negeri yang subur, yang dirahmati tanahnya, namun belum sejahtera nasib anak-anaknya. Mengapa anggaran untuk pendidikan tak kunjung tercukupi? Mengapa pendidikan seakan menjadi sesuatu yang masih dan selalu menjadi apa yang sulit untuk dijangkau? Bukankah Indonesia negeri yang potensial? Bukan hanya katanya, namun memang terlihat dari setiap segi dan sektornya?
            Saya ingin berkontribusi bagi keberlangsungan dan keberlanjutan pendidikan anak bangsa. Memaksimalkan potensi alam serta budayanya dan mengalokasikannya untuk satu hal yang tidak lain dan tidak bukan adalah pendidikan.
            Karna pendidikan adalah pondasi. Dan menjadi terdidik adalah hak setiap pribadi. Pendidikan tidak melulu hanya tentang bangku formal berupa institusi, namun jenjang pendidikan yang tinggi adalah wadah dimana setiap pengharapan ditampung, dan perwujudannya dinanti, sebagai investasi. Investasi untuk pembangunan negeri dengan ilmu yang dimiliki, investasi dalam pembenahan tatanan moral serta budi pekerti sebagai seorang yang berwawasan luas dikemudian hari.
            Maka mudahnya pendidikan adalah apa yang selalu menjadi pengharapan saya untuk Indonesia. Indonesia yang terdidik. Indonesia yang lebih baik.