Kontribusiku Untuk Indonesia
Kenyataan pahit ketika Ibu yang tak
lagi mengajar dikarenakan minimnya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak
mereka di taman kanak-kanak karena merebaknya PAUD, seakan belum mau usai ketika suatu hari, masa itupun
tiba. hari yang menyentak kehidupan dan penghidupan keluarga kami, ketika Ayah
pun harus mendapatkan Pemutusan Hubungan Kerja, secara sepihak dari
instansinya.
Realita kehidupan menyatakan Roda
selalu berputar, ada kalanya berada diatas, ada kalanya pula akan dibawah.
Lantas dimanakah dapat saya temukan pembenaran atas pernyataan yang berkata
demikian? Yang pada kenyataannya kami terus dan terus jatuh kebawah. Usia Ayah
yang kini sudah sekian, seakan tidak memberikan kesempatan meski hanya berupa
pengharapan untuk mendapatkan pekerjaan lain.
Meski dengan kondisi ekonomi yang
terbilang jauh dari kata berkecukupan, namun Ayah, dengan segala cara, terus
memampukan dirinya untuk menyekolahkan saya dari Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah, hingga terhantarkanlah saya kini di Perguruan Tinggi.
Satu hal yang menguatkan saya sampai
saat ini adalah harapan. Pengharapan membuat kita yakin bahwa kita hidup.
Dengan harapan, ada ambisi. Dengan harapan, ada yang menunggu untuk di jadikan
nyata.
Saya memiliki ambisi. Anak-anak
Indonesia memiliki ambisi, untuk menjadi terdidik dan bukan tidak mungkin suatu
hari nanti menjadi agen-agen pendidik. Namun dari semua ambisi, anak-anak
Indonesia belum memiliki jaminan bahwa mimpinya akan terealisasi. Karena apa
yang saya yakini adalah bahwasanya sangat banyak anak-anak Indonesia diluar
sana yang juga mengalami dan merasakan apa yang saya alami dan rasakan,
keterbatasan ekonomi. Begitu banyak Ayah dan Ibu lainnya diluar sana yang
memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka untuk kehidupan dan penghidupan yang
lebih baik dikemudian hari.
Indonesia adalah Negeriku. Negeri yang subur, yang dirahmati tanahnya, namun belum
sejahtera nasib anak-anaknya. Mengapa anggaran untuk pendidikan tak kunjung
tercukupi? Mengapa pendidikan seakan menjadi sesuatu yang masih dan selalu
menjadi apa yang sulit untuk dijangkau? Bukankah Indonesia negeri yang
potensial? Bukan hanya katanya, namun memang terlihat dari setiap segi dan
sektornya?
Saya ingin berkontribusi bagi
keberlangsungan dan keberlanjutan pendidikan anak bangsa. Memaksimalkan potensi
alam serta budayanya dan mengalokasikannya untuk satu hal yang tidak lain dan
tidak bukan adalah pendidikan.
Karna pendidikan adalah pondasi. Dan
menjadi terdidik adalah hak setiap pribadi. Pendidikan tidak melulu hanya
tentang bangku formal berupa institusi, namun jenjang pendidikan yang tinggi
adalah wadah dimana setiap pengharapan ditampung, dan perwujudannya dinanti,
sebagai investasi. Investasi untuk pembangunan negeri dengan ilmu yang dimiliki, investasi dalam pembenahan
tatanan moral serta budi pekerti sebagai seorang yang berwawasan luas
dikemudian hari.
Maka
mudahnya pendidikan adalah apa yang selalu menjadi pengharapan saya untuk
Indonesia. Indonesia yang
terdidik. Indonesia yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar