Senin, 28 September 2015

Interpersonal Communication & Intercultural Communication


A.                 Interpersonal Communication
1.                    Definisi               
                Komunikasi antarpribadi mencakup hubungan tatap muka secara langsung antara pengirim dan penerima pesan, dan hubungan mereka saling  bergantung. Komunikasi antarpribadi mencakup tidak hanya komunikasi dengan penggunaan kata, tetapi juga berbagai bentuk interaksi nonverbal.
                Komunikasi antarpribadi sangat potensial untuk menjalankan fungsi instrumental sebagai alat untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain, karena kita dapat menggunakan kelima alat indera kita untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan kepada komunikan kita. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi antarpribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih mempunyai emosi. Kenyataannya, komunikasi tatap-muka ini membuat manusia merasa lebih akrab dengan sesamanya
                Komunikasi antarpribadi dapat dibedakan berdasarkan jumlah partisipan yang terlibat, diantaranya :
a.       Direct Interpersonal Communication
·                     Dyadic communication, melibatkan dua orang. Contoh : Perbincangan antar teman.
·                     Group communication, melibatkan tiga orang atau lebih. Semakin sedikit jumlah parisipan,         jenis komunikasi ini akan semakin mempermudah terjalinnya Komunikasi antarpribadi.         Group communication ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah atau menentukan          pilihan (musyawarah). Contoh : Kelompok belajar.
            Public communication, memiliki cakupan yang lebih luas dari Group communication        dengan ciri khas komunikasi satu arah yang tidak memungkinkan feedback yang       maksimal. Membujuk, menghibur, dan membagi informasi adalah tujuan utama dari            komunikasi publik. Contoh : Dosen yang mengajar di kelas.
            Organizational communication deals with communication within large organizations such          as businesses. Example : Workfocused discussion between employer and employee.
b.      Mediated Interpersonal Communication
                Mediated interpersonal communication melibatkan teknologi yang menghubungkan pengirim dan penerima pesan.
Dyadic communication, melibatkan dua orang, namun konteksnya tidak face-to-face. Contoh : Dua orang kolega bisnis yang menggunakan telepon atau email.
Group communication,  Melibatkan sebagian kecil orang. Contoh : Teleconference kelas distance-learning.
                Mediated communication memberikan keuntungan berupa kemampuan yang memungkinkan setiap orang untuk melakukan komunikasi walaupun dengan bentangan jarak dan perbedaan waktu, yang tidak memungkinkan setiap orang untuk melakukan komunikasi secara langsung. Teknologi memungkinkan setiap orang untuk melakukan pekerjaan mereka tanpa harus benar-benar ada kehadirannya.
                Sebagaimana Direct communication,  Mediated communication bisa formal, informal, personal, maupun publik. Feedback mungkin bisa cepat, atau mungkin juga tertunda. Mediated communication memiliki beberapa keterbatasan, Diantaranya kemungkinan user internet untuk menyamarkan atau memanipulasi sumber pesan, maupun kerentanan perangkat terhadap sumber-sumber tak terpercaya.

2.                   Model-model Untuk Menganalisa Hubungan Interpersonal
                Ada sejumlah model untuk menganalisa hubungan interpersonal, tetapi dengan mengikuti ikhtisar dari Coleman dan Hammen (1974:224-231). Model-model tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
• Model Pertukaran Social
                Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya.
• Model Peranan Masyarakat
                Model peranan melihatnya sebagai panggung sandiwara. Di sini setiap orang harus memainkan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan ekspedisi peranan dan tuntutan peranan, memiliki keterampilan peranan, dan terhindari dari konflik peranan dan kerancunan peranan.
• Model Permainan
                Dalam model ini, orang-orang berhubungan dalam bermacam-macam permainan. Mendasari permainan ini adalah tiga bagian kepribadian manusia.
• Model Interaksional
                Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat struktural, integratif, dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsisitem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Pola-pola komunikasi interpersonal mempuanyai efek yang berlainan pada hubungan interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan mereka. Yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan. Tetapi bagaimana komunikasi itu dilakukan. Faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal adalah percaya, kejujuran, sikap suportif.

3.                   Faktor- faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Interpersonal Communication

        Jalaludin Rakhmat (1994) meyakini bahwa komunikasi antarpribadi dipengaruhi oleh persepsi interpersonal; konsep diri; atraksi interpersonal; dan hubungan interpersonal.
a.                  Persepsi Interpersonal
                Persepi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seseorang (komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal. Kecermatan dalam persepsi interpersonal akan berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi, seorang peserta komunikasi yang salah memberi makna terhadap pesan akan mengakibatkan kegagalan komunikasi.
b.             Konsep Diri
                Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri yang positif, ditandai dengan lima hal, yaitu: a. Yakin akan kemampuan mengatasi masalah; b. Merasa setara dengan orang lain; c. Menerima pujian tanpa rasa malu; d. Menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat; e. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubah. Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi antarpribadi, yaitu :
·                Membuka diri. Pengetahuan tentang diri kita akan meningkatkan komunikasi, dan pada saat yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dengan membuka diri, konsep diri menjadi dekat pada kenyataan. Bila konsep diri sesuai dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman dan gagasan baru.
·                Percaya diri. Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal sebagai communication apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri. Untuk menumbuhkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang sehat menjadi perlu.
·                Selektivitas. Konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi kepada pesan apa kita bersedia membuka diri (terpaan selektif), bagaimana kita mempersepsi pesan (persepsi selektif), dan apa yang kita ingat (ingatan selektif). Selain itu konsep diri juga berpengaruh dalam penyandian pesan (penyandian selektif).
c.              Atraksi interpersonal
                   Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Komunkasi antarpribadi dipengaruhi atraksi interpersonal dalam hal :
·                Penafsiran pesan dan penilaian. Pendapat dan penilaian kita terhadap orang lain tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional, kita juga makhluk emosional. Karena itu, ketika kita menyenangi seseorang, kita juga cenderung melihat segala hal yang berkaitan dengan dia secara positif. Sebaliknya, jika membencinya, kita cenderung melihat karakteristiknya secara negatif.
·                Efektivitas komunikasi. Komunikasi antarpribadi dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Bila kita berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan dengan kita, kita akan gembira dan terbuka. Bila berkumpul dengan denganorang-orang yang kita benci akan membuat kita tegang, resah, dan tidak enak. Kita akan menutup diri dan menghindari komunikasi.

4.            Hubungan Keahlian komunikasi Interpersonal dalam Komunikasi
Orang yang mempunyai keahlian komunikasi maka komunikasi orang tersebut akan berjalan efektif. Kita harus memupuk keahlian kita dalam komunikasi interpersonal melalui konsep diri. Konsep diri seperti yang telah tertuang diatas sangat penting dilakukan agar kita ahli dalam berkomunikasi. Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik.
DeVito (1992) memandang komunikasi interpersonal yang efektif berdasarkan humanistic model dan pragmatic model :
1.                   Humanistic model (soft approach) menunjukkan bahwa kualitas komunikasi interpersonal yang efektif ditentukan oleh 5 faktor, sebagai berikut: Openness (keterbukaan), Empathy, Supportiveness (mendukung), Positiveness (sikap positif), Equality (kesetaraan).
2.                                  Pragmatic model (behavioural) atau disebut juga sebagai pendekatan keras (hard approach) atau (competence model) fokus pada perilaku tertentu yang harus digunakan oleh pelaku komunikasi interpersonal baik sebagai pembicara maupun sebagai pendengar apabila ingin efektif. Pendekatan ini pun menyatakan ada 5 skemampuan yang harus dimiliki, yaitu sebagai berikut:
• Confidence (percaya diri) maksudnya adalah para pelaku komunikasi interpersonal harus memilki rasa percaya diri secara sosial (social confidence).
• Immediacy merujuk pada situasi adanya perasaan kebersamaan antara
pembicara dan pendengar (oneness). Immediacy ditunjukan dengan sikap memperhatikan, menyenangi, dan tertarik pada lawan bicara
• Interaction management maksudnya adalah kemampuan untuk mengontrol interaksi demi memuaskan kedua belah pihak pelaku komunikasi.
• Expressiveness maksudnya adalah kemampuan untuk secara sungguhsungguh terlibat dalam proses komunikasi.
• Other orientation maksudnya adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan orang lain selama proses komunikasi interpersonal berlangsung.



B.            Intercultural Communication
1.               Hubungan Antara Komunikasi Dengan Budaya
                Sebelum kita mengetahui apa definisi dari Komunikasi Antarbudaya, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang hubungan antara komunikasi dengan budaya itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama, Pembicaraan tentang komunikasi akan diawali dengan asumsi bahwa komunikasi berhubungan dengan kebutuhan manusia dan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya. Kebutuhan berhubungan sosial ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi.
                Adapun budaya itu sendiri berkenaan dengan cara hidup manusia. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktek komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik dan teknologi semuanya didasarkan pada pola-pola budaya yang ada di masyarakat.
                Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok. (Mulyana, 1996:18)
                Budaya dan komunikasi tak dapat dipisahkan satu sama lain, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siap, tentang apa dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Budaya merupakan landasan komunikasi sehingga bila budaya beraneka ragam maka beraneka ragam pula praktek-praktek komunikasi yang berkembang.

2.              Definisi Komunikasi Antarbudaya
Definisi yang pertama dikemukakan didalam buku “Intercultural Communication : A Reader” dimana dinyatakan bahwa komunikasi antarbudaya  (Intercultural Communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar & Porter :  1994).
Definisi lain diberikan oleh Liliweri bahwa proses komunikasi antarbudaya merupakan interaksi antarpribadi dan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (2003, p. 13).
Menurut Stewart L. Tubbs, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi).
Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya, dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain.
Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya. (Intercultural communication generally refers to face-to-face interaction among people of diverse culture).
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok yang berbeda latar belakang budayanya. Selanjutnya komunikasi antarbudaya itu dilakukan:
  1. Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan;
  2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antar subjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama;
  3. Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;
  4. Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara.
                Apapun definisi yang ada mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) menyatakan bahwa komunikasi antarbudaya terjadi apabila terdapat 2 (dua) budaya yang berbeda dan kedua budaya tersebut sedang melaksanakan proses komunikasi.



3.              Hakikat Komunikasi Antarbudaya
Jelas, karena Komunikasi antarbudaya maka mau tidak mau pasti melibatkan kebudayaan antar kedua belah pihak yang berkomunikasi. Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi. Jadi sudah pasti adanya dua fenomena unik, yaitu Enkulturasi dan Akulturasi.
a.              Enkulturasi
Enkulturasi mengacu pada proses dimana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka. Contoh adalah pembelajaran seni Tari Topeng di sanggar Tari Keraton Kacirebonan.
b.             Akulturasi
Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Misalnya, bila sekelompok imigran kemudian berdiam di Amerika Serikat (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah.
5.              Ruang Lingkup Komunikasi Antarbudaya
                Sebagaimana telah diungkapkan di muka, komunikasi antarbudaya merupakan salah satu bidang studi dari ilmu komunikasi. Oleh karena itu, komunikasi antarbudaya mempunyai objek formal, yaitu mempelajari komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh seorang komunikator sebagai produsen pesan dari suatu kebudayaan dengan konsumen pesan atau komunikan dari kebudayaan yang lain.
                Komunikasi antarbudaya berkaitan dengan hubungan timbal balik antara sifat-sifat yang terkandung dalam komunikasi, kebudayaan yang pada gilirannya menghasilkan sifat-sifat komunikasi antarbudaya. Pada dasarnya, ruang lingkup komunikasi antarbudaya tidak jauh berbeda dengan komunikasi secara umum. Namun yang menjadi penekanannya yaitu pada perbedaan budaya diantara para peserta komunikasinya. Berdasarkan analisis sederhana,merumuskan ruang lingkup komunikasi antarbudaya dapat ditelusuri dengan cara megintegrasikan berbagai konseptualisasi tentang dimensi kebudayaan dalam konteks komunikasi antarbudaya. Adapun dimensi yang perlu diperhatikan adalah :
·                Tingkat masyarakat kelompok budaya dari para pelaku komunikasi
·                Konteks sosial tempat terjadinya komunikasi antarbudaya
·                Saluran komunikasi yang dilalui oleh pesan-pesan komunikasi antarbudaya, baik yang bersifat verbal maupun nonverbal

6.             Memahami Perbedaan-Perbedaan Budaya
Budaya adalah gaya hidup unik suatu kelompok manusia tertentu. Budaya bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh sebagian orang dan tidak dimiliki oleh sebagian orang yang lainnya – budaya dimiliki oleh seluruh manusia dan dengan demikian seharusnya budaya menjadi salah satu faktor pemersatu.
Pada dasarnya manusia-manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial mereka sebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka. Individu-individu sangat cenderung menerima dan mempercayai apa yang dikatakan budaya mereka. Mereka dipengaruhi oleh adat dan pengetahuan masyarakat dimana mereka tinggal dan dibesarkan, terlepas dari bagaimana validitas objektif masukan dan penanaman budaya ini pada dirinya. Individu-individu itu cenderung mengabaikan atau menolak apa yang bertentangan dengan “kebenaran” kultural atau bertentangan dengan kepercayaan-kepercayaannya. Inilah yang seringkali merupakan landasan bagi prasangka yang tumbuh diantara anggota-anggota kelompok lain, bagi penolakan untuk berubah ketika gagasan-gagasan yang sudah mapan menghadapi tantangan.
Setiap budaya memberi identitas kepada sekolompok orang tertentu sehingga jika kita ingin lebih mudah memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam msaing-masing budaya tersebut paling tidak kita harus mampu untuk mengidentifikasi identitas dari masing-masing budaya tersebut yang antara lain terlihat pada :
Komunikasi dan Bahasa
                         Sistem komunikasi, verbal maupun nonverbal, membedakan suatu kelompok dari kelompok lainnya. Terdapat banyak sekali bahasa verbal diseluruh dunia ini demikian pula bahasa nonverbal, meskipun bahasa tubuh (nonverbal) sering dianggap bersifat universal namun perwujudannya sering berbeda secara lokal.
• Pakaian dan Penampilan
             Pakaian dan penampilan ini meliputi pakaian dan dandanan luar juga dekorasi tubuh yang cenderung berbeda secara kultural.
• Makanan dan Kebiasaan Makan
Cara memilih, menyiapkan, menyajikan dan memakan makanan sering berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Subkultur-subkultur juga dapat dianalisis dari perspektif ini, seperti ruang makan eksekutif, asrama tentara, ruang minum teh wanita, dan restoran vegetarian.
Waktu dan Kesadaran Akan Waktu
             Kesadaran akan waktu berbeda antara budaya yang satu dengan budaya lainnya. Sebagian orang tepat waktu dan sebagian lainnya merelatifkan waktu.
• Penghargaan dan Pengakuan
   Suatu cara untuk mengamati suatu budaya adalah dengan memperhatikan cara dan metode memberikan pujian bagi perbuatan-perbuatan baik dan berani, lama pengabdian atau bentuk-bentuk lain penyelesaian tugas.
• Hubungan-hubungan
   Budaya juga mengatur hubungan-hubungan manusia dan hubungan-hubungan organisasi berdasarkan usia, jenis kelamin, status, kekeluargaan, kekayaan, kekuasaan, dan kebijaksanaan.
• Nilai dan Norma
   Berdasarkan sistem nilai yang dianutnya, suatu budaya menentukan norma-norma perilaku bagi masyarakat yang bersangkutan. Aturan ini bisa berkenaan dengan berbagai hal, mulai dari etika kerja atau kesenangan hingga kepatuhan mutlak atau kebolehan bagi anak-anak; dari penyerahan istri secara kaku kepada suaminya hingga kebebasan wanita secara total.
• Rasa Diri dan Ruang
   Kenyamanan yang dimiliki seseorang atas dirinya bisa diekspresikan secara berbeda oleh masing-masing budaya. Beberapa budaya sangat terstruktur dan formal, sementara budaya linnya lebih lentur dan informal. Beberapa budaya sangat tertutup dan menentukan tempat seseorang secara persis, sementara budaya-budaya lain lebih terbuka dan berubah.
• Proses Mental dan Belajar
   Beberapa budaya menekankan aspek perkembangan otak ketimbang aspek lainnya sehingga orang dapat mengamati perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam cara orang-orang berpikir dan belajar.
• Kepercayaan dan Sikap
   Semua budaya tampaknya mempunyai perhatian terhadap hal-hal supernatural yang jelas dalam agama-agama dan praktek keagamaan atau kepercayaan mereka.
7.              Asumsi-Asumsi Dalam Komunikasi Antarbudaya
                “Berbicaralah dengan bahasa mereka”.  Jargon ini adalah kunci penting dalam mewujudkan komunikasi. Seorang komunikator yang baik adalah mereka yang memiliki kemampuan berbahasa (verbal dan nonverbal) yang dipahami oleh komunikannya. Sitaram dan Cogdell (1976) menyampaikan, bahwa komunikasi yang efektif dengan orang lain akan berhasil apabila kita mampu memilih dan menjalankan teknik-teknik berkomunikasi, serta menggunakan bahasa yang sesuai dengan latar belakang mereka. Atas dasar uraian di atas, beberapa asumsi komunikasi antarbudaya didasarkan atas hal-hal berikut :
a.              Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan.
b.             Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi.
c.              Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi.
d.             Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian.
e.             Komunikasi berpusat pada kebudayaan.     
f.               Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya (Liliweri, 2003 : 15)

8.             Faktor Penyebab Pentingnya Komunikasi Antarbudaya
a.              Mobilitas
                   Perjalanan seseorang dari suatu negara atau benua ke negara atau benua lain menyebabkan menyebabkan mobilitas masyarakat di dunia mencapai puncaknya sehingga hal yang semula adalah hubungan antarpribadi menjadi hubungan antarbudaya. Hal ini tejadi karena pada saat seseorang mengunjungi suatu daerah baru maka secara otomatis orang tersebut akan mengenal budaya baru dan orang- orang yang berbeda seta mencari peluang ekonomis yang ada.
b.      Saling Kebergantungan Ekonomi
                   Pada saat sekarang ini banyak sekali negara secara ekonomis bergantung pada negara lain, seperti negara Cina yang semula hanya bergantung pada negara- negara disekitarnya mulai tergantung pada negara Eropa yang memiliki kebudayaan yang sama sekali berbeda dengan kebudayaannya. Kehidupan ekonomis suatu negara yang ada saat sekarang ini sangat bergantung pada kemampuan negara tersebut untuk berkomunikasi dengan negara lain sekalipun memiliki kebudayaan yang jauh berbeda.
c.       Teknologi Komunikasi
                   Peningkatan secara pesat teknologi komunikasi pada saat sekarang ini membuat komunikasi antarbudaya menjadi lebih mudah, praktis, dan juga tidak dapat dihindarkan. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya film- film televisi dari luar yang berasal dari luar negeri sehingga kita dapat mengetahui budaya- budaya yang ada di negara tersebut serta riwayat dari sejarah suatu negara. Demikian juga dengan berita- berita mengenai suatu negara yang dapat disaksikan oleh negara lain. Namun, tidak jarang pula kita melihat berita mengenai ketegangan rasial, pertentangan agama, diskriminasi seks, dan berbagai masalah yang ada yang disebabkan oleh kegagalan dari komunikasi antarbudaya.
d.      Pola Imigrasi
                   Di setiap kota- kota besar terdapat banyak sekali orang- orang yang berasal dari berbagai negara yang berbeda. Dalam kehidupan sehari- hari kita sering sekali bergaul dan berkomunikasi dengan mereka. Maka, pengalaman dari pergaulan kita tersebut menjadi semakin antarbudaya.
e.      Kesejahteraan Politik
                   Kesejahteraan politik yang ada di suatu negara sangat bergantung pada kesejahteraan politik kultur atau negara lain. Maka, kekacauan yang terjadi di belahan dunia lain akan sangat mempengaruhi keamanan negara lain. Dari hal tersebut, kita dapat melihat betapa pentingnya komunikasi dan rasa saling pengertian antarbudaya pada saat sekarang ini dibandingkan dengan sebelumnya.

9.             Kesukaran Memahiri Komunikasi Antarbudaya
                Komunikasi antarbudaya merupakan suatu bidang yang sulit untuk dipelajari dan juga diriset apalagi untuk dimahiri. Ada dua hal yang mengidentifikasikan kesulitan utama dalam memahiri komunikasi antarbudaya sebagai suatu cara untuk mengilustrasikan lebih jauh mengenai kekhasan dari komunikasi antarbudaya, yaitu :
a.              Etnosentrisme
                Salah satu kesulitan yang kita miliki adalah kita sering kali mengukur kebudayaan lain yang ada dengan kacamata kultur yang kita miliki. Etnosentrisme yang merupakan kecenderungan untuk mengevaluasi nilai, kepercayaan, dan perilaku dalam kultur sendiri lebih baik, lebih logis, dan lebih wajar dibandingkan dengan kultur lain sangat erat hubungannya dengan seksisme dan heteroseksisme yang menyebabkan hambatan dalam pemahanan antarbudaya menjadi sulit diperkirakan.
b.             Kesadaran (mindfulness) dan Ketidaksadaran (mindlessness)
                Pada keadaan sadar (mindfulness) seseorang akan bertindak secara wajar seperti yang dilakukan oleh banyak orang, tetapi pada keadaan tidak sadar (mindlessness) seseorang akan cenderung tidak wajar dan sering kali berasumsi yang tidak layak secara intelektual. Misalnya seseorang yang mengetahui bahwa ada orang yang menderita HIV/ AIDS yang tidak akan menularkan penyakitnya jika hanya bersentuhan, namun seseorang yang dalam ketidaksadarannya akan menghindari orang- orang yang menderita HIV/ AIDS tersebut.
c.              Kejutan Budaya
             Kejutan budaya mengacu pada reaksi psikologis yang dialami seseorang karena berada di tengah suatu kultur yang sangat berbeda dengan kulturnya sendiri. Sebagian dari kejutan ini timbul karena perasaan terasing, menonjol, dan berbeda dari yang lain. Tahap-tahap kejutan budaya menurut Kalervo Oberg (1960) :
·                Masa bulan madu
                   Masa ini pada mulanya terasa ada pesona, kegembiraan, dengan kultur yang baru dan masyarakatnya. Banyak turis yang tetap berada pada tahap ini karena masa tinggal mereka di suatu Negara asing sangat singkat.
·                Krisis
                   Di tahap ini perbedaan kultur dengan kultur yang baru menimbulkan masalah. Ini adalah tahap pada mana kita mengalami kejutan budaya baru yang sebenarnya.
·                Pemulihan
                   Selama periode ini anda memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk bertindak efektif. Perasaan tidak puas anda mulai meluntur.
·                Penyesuaian
                   Pada tahap akhir ini, anda menyesuaikan diri dan memasuki kultur baru serta mendapatkan pengalaman baru.
10.           Komunikasi Lintas Budaya vs Komunikasi Antarbudaya
Menurut Joseph A Devito, dalam bukunya “Communicology An Introduction To The Study Of Communication”, Harper & Row, New York, 1976 mengatakan bahwa komunikasi lintas budaya berbeda dengan komunikasi antarbudaya.
Jika komunikasi lintas budaya lebih menekankan pada perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi diantara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan, maka studi komunikasi antarbudaya lebih mendekati objek melalui pendekatan kritik budaya.
Aspek utama dari komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antarpribadi diantara komunikator dan komunikan yang kebudayaannya berbeda. Tidak masalah apakah kejadian itu terjadi dalam satu bangsa atau antar bangsa yang berbeda, yang jelas adalah budayanya yang berbeda.
11.            Komunikasi Internasional vs Komunikasi Transrasial
Selanjutnya untuk menghindari ketumpang tindihan yang sering terjadi maka selanjutnya kita akan membicarakan kajian komunikasi internasional. Masih dalam buku karya Joseph A. Devito yang sama, dijelaskan pula perbedaan antara komunikasi transrasial dengan komunikasi internasional.
Komunikasi internasional merupakan komunikasi yang bersifat interaktif yang menggunakan media. Objek formal komunikasi internasional senantiasa berhubungan dengan media massa yang dianggap sebagai agen penyebaran berita-berita internasional dari media “sumber” di satu negara kepada “penerima” di negara lain. Komunikasi internasional pada umumnya melibatkan dua atau lebih negara di mana produk komunikasi massa disebarkan melintasi batas negara melalui struktur jaringan komunikasi tertentu.
Secara lebih spesifik, studi-studi komunikasi internasional dapat dikategorikan atas pendekatan berikut :
·                    Pendekatan Peta Bumi (Geographical Approach) yang membahas arus informasi maupun, liputan internasional pada bangsa atau negara tertentu, wilayah tertentu, ataupun lingkup dunia, disamping antar wilayah.
·                    Pendekatan media (media approach), adalah pengkajian berita internasional melalui satu medium atau multi media.
·                    Pendekatan Peristiwa (Event Approach) yang mengkaji satu peristiwa lewat medium.
·                    Pendekatan Ideologis (Ideological Approach)  yang membandingkan sistem pers antar bangsa atau melihat penyebaran arus berita internasional dari sudut ideologis semata-mata.
                Selanjutnya kita akan membicarakan tentang komunikasi transrasial. Transrasial berarti melintasi batas rasial. Dalam antropologi, konsep transrasial ini sama dengan konsep antar etnik. Smith (1973) mengatakan bahwa kelompok etnik adalah sekelompok orang yang dipersatukan oleh kesamaan warisan sejarah, kebudayaan, aspirasi, cita-cita dan harapan, tujuan, bahkan kecemasan dan ketakutan yang sama.
Komunikasi transrasial sebenarnya memiliki kemiripan dengan komunikasi lintas budaya, hanya saja dalam komunikasi transrasial lebih diarahkan pada proses komunikasi internasional yang meliputi komunikasi diantara mereka yang berbeda etnik dan ras. Komunikasi transrasial bisa berbentuk diadic dan bisa juga berbentuk komunikasi massa.
Ada empat kategorisasi komunikasi transrasial “diadic” yang didasarkan pada :
·                    Kesamaan kodifikasi, yang meliputi proses pembakuan kode-kode komunikasi / simbol dan “sign” yang tumpang tindih
·                    Kedekatan pengirim dan penerima
·                    Masalah perspektif
·                    Keterampilan umum berkomunikasi




Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar