A.
Interpersonal Communication
1.
Definisi
Komunikasi
antarpribadi mencakup hubungan tatap muka secara langsung antara pengirim dan
penerima pesan, dan hubungan mereka saling
bergantung. Komunikasi antarpribadi mencakup tidak hanya komunikasi
dengan penggunaan kata, tetapi juga berbagai bentuk interaksi nonverbal.
Komunikasi
antarpribadi sangat potensial untuk menjalankan fungsi instrumental sebagai
alat untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain, karena kita dapat menggunakan
kelima alat
indera kita untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan kepada
komunikan kita. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna,
komunikasi antarpribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih
mempunyai emosi. Kenyataannya,
komunikasi tatap-muka ini membuat manusia merasa lebih akrab dengan sesamanya
Komunikasi
antarpribadi dapat dibedakan berdasarkan jumlah partisipan yang terlibat,
diantaranya :
a.
Direct
Interpersonal Communication
·
Dyadic
communication, melibatkan dua orang. Contoh : Perbincangan
antar teman.
·
Group
communication, melibatkan tiga orang atau lebih. Semakin
sedikit jumlah parisipan, jenis
komunikasi ini akan semakin mempermudah terjalinnya Komunikasi antarpribadi. Group
communication ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah atau menentukan pilihan (musyawarah). Contoh : Kelompok
belajar.
• Public
communication, memiliki cakupan yang lebih luas dari Group communication dengan ciri khas komunikasi satu arah
yang tidak memungkinkan feedback yang maksimal.
Membujuk, menghibur, dan membagi informasi adalah tujuan utama dari komunikasi publik. Contoh : Dosen
yang mengajar di kelas.
• Organizational communication deals with
communication within large organizations such as
businesses. Example : Workfocused discussion between employer and employee.
b. Mediated Interpersonal Communication
Mediated
interpersonal communication melibatkan teknologi yang menghubungkan pengirim
dan penerima pesan.
• Dyadic communication, melibatkan
dua orang, namun konteksnya tidak face-to-face. Contoh : Dua orang kolega
bisnis yang menggunakan telepon atau email.
• Group communication, Melibatkan sebagian kecil orang. Contoh :
Teleconference kelas distance-learning.
Mediated
communication memberikan keuntungan berupa kemampuan yang memungkinkan
setiap orang untuk melakukan komunikasi walaupun dengan bentangan jarak dan
perbedaan waktu, yang tidak memungkinkan setiap orang untuk melakukan
komunikasi secara langsung. Teknologi memungkinkan setiap orang untuk melakukan
pekerjaan mereka tanpa harus benar-benar ada kehadirannya.
Sebagaimana Direct
communication, Mediated communication bisa formal, informal, personal, maupun
publik. Feedback mungkin bisa cepat, atau mungkin juga tertunda. Mediated communication memiliki beberapa
keterbatasan, Diantaranya kemungkinan user internet untuk menyamarkan atau
memanipulasi sumber pesan, maupun kerentanan perangkat terhadap sumber-sumber
tak terpercaya.
2.
Model-model
Untuk Menganalisa Hubungan Interpersonal
Ada sejumlah
model untuk menganalisa hubungan interpersonal,
tetapi dengan mengikuti ikhtisar dari Coleman dan Hammen (1974:224-231).
Model-model tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
• Model Pertukaran Social
Model ini
memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang
berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi
kebutuhannya.
• Model Peranan Masyarakat
Model
peranan melihatnya sebagai panggung sandiwara. Di sini setiap orang harus
memainkan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat masyarakat.
Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai
dengan ekspedisi peranan dan tuntutan peranan, memiliki keterampilan peranan,
dan terhindari dari konflik peranan dan kerancunan peranan.
• Model Permainan
Dalam model
ini, orang-orang berhubungan dalam bermacam-macam permainan. Mendasari
permainan ini adalah tiga bagian kepribadian manusia.
• Model Interaksional
Model ini
memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki
sifat-sifat struktural, integratif, dan medan. Semua sistem terdiri dari
subsistem-subsisitem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu
kesatuan. Pola-pola
komunikasi interpersonal mempuanyai efek yang berlainan pada hubungan
interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang melakukan
komunikasi interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan mereka. Yang
menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan. Tetapi bagaimana
komunikasi itu dilakukan. Faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal
dalam komunikasi interpersonal adalah percaya, kejujuran, sikap suportif.
3.
Faktor-
faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Interpersonal Communication
Jalaludin
Rakhmat (1994) meyakini bahwa komunikasi antarpribadi dipengaruhi oleh persepsi
interpersonal; konsep diri; atraksi interpersonal; dan hubungan interpersonal.
a.
Persepsi Interpersonal
Persepi
interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal
dari seseorang
(komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal. Kecermatan dalam
persepsi interpersonal akan berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi,
seorang peserta komunikasi yang salah memberi makna terhadap pesan akan
mengakibatkan
kegagalan komunikasi.
b.
Konsep Diri
Konsep diri
adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri yang positif,
ditandai dengan lima hal, yaitu: a. Yakin akan kemampuan mengatasi masalah; b.
Merasa setara
dengan orang lain; c. Menerima pujian tanpa rasa malu; d. Menyadari, bahwa
setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak
seluruhnya disetujui oleh masyarakat; e. Mampu memperbaiki dirinya karena ia
sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan
berusaha mengubah. Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam
komunikasi antarpribadi, yaitu
:
·
Membuka diri. Pengetahuan tentang diri kita akan
meningkatkan komunikasi, dan pada saat yang sama, berkomunikasi dengan orang
lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dengan membuka diri, konsep
diri menjadi dekat pada kenyataan. Bila konsep diri sesuai dengan pengalaman
kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman dan gagasan
baru.
·
Percaya diri. Ketakutan untuk melakukan komunikasi
dikenal sebagai communication apprehension. Orang yang aprehensif dalam
komunikasi disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri. Untuk menumbuhkan
percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang sehat menjadi perlu.
·
Selektivitas. Konsep diri mempengaruhi perilaku
komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi kepada pesan apa kita bersedia
membuka diri (terpaan selektif), bagaimana kita mempersepsi pesan (persepsi
selektif), dan apa yang kita ingat (ingatan selektif). Selain itu konsep diri
juga berpengaruh dalam penyandian pesan (penyandian selektif).
c.
Atraksi interpersonal
Atraksi
interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik
seseorang. Komunkasi antarpribadi dipengaruhi atraksi interpersonal dalam hal :
·
Penafsiran pesan dan penilaian. Pendapat dan penilaian
kita terhadap orang lain tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional,
kita juga makhluk emosional. Karena itu, ketika kita menyenangi seseorang, kita
juga cenderung melihat segala hal yang berkaitan dengan dia secara positif.
Sebaliknya, jika membencinya, kita cenderung melihat karakteristiknya secara
negatif.
·
Efektivitas komunikasi. Komunikasi antarpribadi
dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan
bagi komunikan. Bila kita berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan
dengan kita, kita akan gembira dan terbuka. Bila berkumpul dengan
denganorang-orang yang kita benci akan membuat kita tegang, resah, dan tidak
enak. Kita akan menutup diri dan menghindari komunikasi.
4.
Hubungan Keahlian komunikasi Interpersonal
dalam Komunikasi
Orang
yang mempunyai keahlian komunikasi maka komunikasi orang tersebut akan berjalan
efektif. Kita harus memupuk keahlian kita dalam komunikasi interpersonal
melalui konsep diri. Konsep diri seperti yang telah tertuang diatas sangat
penting dilakukan agar kita ahli dalam berkomunikasi. Komunikasi yang efektif
ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik.
DeVito
(1992) memandang komunikasi interpersonal yang efektif berdasarkan humanistic
model dan pragmatic model
:
1.
Humanistic model (soft approach) menunjukkan bahwa
kualitas komunikasi interpersonal yang efektif ditentukan oleh 5 faktor,
sebagai berikut: Openness (keterbukaan), Empathy, Supportiveness (mendukung),
Positiveness (sikap positif), Equality (kesetaraan).
2.
Pragmatic
model (behavioural) atau disebut juga sebagai pendekatan keras (hard approach)
atau (competence model) fokus pada perilaku tertentu yang harus digunakan oleh
pelaku komunikasi interpersonal baik sebagai pembicara maupun sebagai pendengar
apabila ingin efektif. Pendekatan ini pun menyatakan ada 5 skemampuan yang
harus dimiliki, yaitu sebagai berikut:
• Confidence (percaya diri)
maksudnya adalah para pelaku komunikasi interpersonal harus memilki rasa
percaya diri secara sosial (social confidence).
• Immediacy merujuk pada
situasi adanya perasaan kebersamaan antara
pembicara dan pendengar
(oneness). Immediacy ditunjukan dengan sikap memperhatikan, menyenangi, dan
tertarik pada lawan bicara
• Interaction management
maksudnya adalah kemampuan untuk mengontrol interaksi demi memuaskan kedua
belah pihak pelaku komunikasi.
• Expressiveness maksudnya
adalah kemampuan untuk secara sungguhsungguh terlibat dalam proses komunikasi.
• Other orientation maksudnya
adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan orang lain selama proses komunikasi
interpersonal berlangsung.
B.
Intercultural
Communication
1.
Hubungan
Antara Komunikasi Dengan Budaya
Sebelum kita mengetahui apa definisi dari Komunikasi Antarbudaya,
kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang hubungan antara komunikasi dengan
budaya itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama, Pembicaraan tentang
komunikasi akan diawali dengan asumsi bahwa komunikasi berhubungan dengan
kebutuhan manusia dan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan
manusia-manusia lainnya. Kebutuhan berhubungan sosial ini terpenuhi melalui
pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan
manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi.
Adapun budaya itu sendiri berkenaan dengan cara hidup
manusia. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktek komunikasi,
tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik dan teknologi
semuanya didasarkan pada pola-pola budaya yang ada di masyarakat.
Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat.
Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman,
kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan
ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh
sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan
kelompok. (Mulyana, 1996:18)
Budaya dan komunikasi tak dapat dipisahkan satu sama
lain, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siap, tentang
apa dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan
kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Budaya
merupakan landasan komunikasi sehingga bila budaya beraneka ragam maka beraneka
ragam pula praktek-praktek komunikasi yang berkembang.
2.
Definisi
Komunikasi Antarbudaya
Definisi yang pertama dikemukakan didalam buku
“Intercultural Communication : A Reader” dimana dinyatakan bahwa komunikasi antarbudaya (Intercultural
Communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya
tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar & Porter : 1994).
Definisi lain diberikan oleh Liliweri bahwa
proses komunikasi antarbudaya merupakan interaksi antarpribadi dan komunikasi
antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang
kebudayaan yang berbeda (2003, p. 13).
Menurut Stewart
L. Tubbs, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara
orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau
perbedaan-perbedaan sosio ekonomi).
Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow
across national boundaries. Misalnya, dalam keterlibatan suatu konfrensi
internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan
berkomunikasi satu sama lain.
Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan
komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang
berbeda budayanya. (Intercultural communication generally refers to
face-to-face interaction among people of diverse culture).
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah
proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku
manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok yang
berbeda latar belakang budayanya. Selanjutnya komunikasi antarbudaya itu
dilakukan:
- Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan;
- Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antar subjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama;
- Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;
- Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara.
Apapun
definisi yang ada mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication)
menyatakan bahwa komunikasi antarbudaya terjadi apabila terdapat 2 (dua) budaya
yang berbeda dan kedua budaya tersebut sedang melaksanakan proses komunikasi.
3.
Hakikat
Komunikasi Antarbudaya
Jelas, karena Komunikasi antarbudaya maka mau
tidak mau pasti melibatkan kebudayaan antar kedua belah pihak yang
berkomunikasi. Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh
sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi. Jadi sudah pasti
adanya dua fenomena unik, yaitu Enkulturasi dan Akulturasi.
a.
Enkulturasi
Enkulturasi mengacu pada
proses dimana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur
ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orang tua,
kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan
guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka. Contoh
adalah pembelajaran seni Tari Topeng di sanggar Tari Keraton Kacirebonan.
b.
Akulturasi
Akulturasi mengacu pada
proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan
langsung dengan kultur lain. Misalnya, bila sekelompok imigran kemudian
berdiam di Amerika Serikat (kultur tuan
rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini.
Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur
tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu
yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah.
5.
Ruang Lingkup Komunikasi Antarbudaya
Sebagaimana telah diungkapkan di
muka, komunikasi antarbudaya merupakan salah satu bidang studi dari ilmu
komunikasi. Oleh karena itu, komunikasi antarbudaya mempunyai objek formal,
yaitu mempelajari komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh seorang komunikator sebagai produsen pesan
dari suatu kebudayaan dengan konsumen pesan atau komunikan dari
kebudayaan yang lain.
Komunikasi antarbudaya berkaitan dengan hubungan timbal balik antara
sifat-sifat yang terkandung dalam komunikasi, kebudayaan yang pada gilirannya
menghasilkan sifat-sifat komunikasi antarbudaya. Pada dasarnya, ruang lingkup komunikasi antarbudaya tidak jauh berbeda
dengan komunikasi secara umum. Namun yang menjadi penekanannya yaitu pada
perbedaan budaya diantara para peserta komunikasinya. Berdasarkan
analisis sederhana,merumuskan ruang lingkup
komunikasi antarbudaya dapat ditelusuri dengan cara megintegrasikan berbagai
konseptualisasi tentang dimensi kebudayaan dalam
konteks komunikasi antarbudaya. Adapun dimensi yang perlu diperhatikan adalah
:
·
Tingkat
masyarakat kelompok budaya dari para pelaku komunikasi
·
Konteks
sosial tempat terjadinya komunikasi antarbudaya
·
Saluran
komunikasi yang dilalui oleh pesan-pesan komunikasi antarbudaya, baik yang
bersifat verbal maupun nonverbal
6.
Memahami
Perbedaan-Perbedaan Budaya
Budaya adalah gaya hidup unik suatu kelompok
manusia tertentu. Budaya bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh sebagian orang dan
tidak dimiliki oleh sebagian orang yang lainnya – budaya dimiliki oleh seluruh
manusia dan dengan demikian seharusnya budaya menjadi salah satu faktor
pemersatu.
Pada dasarnya manusia-manusia menciptakan budaya
atau lingkungan sosial mereka sebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik
dan biologis mereka. Individu-individu sangat cenderung menerima dan
mempercayai apa yang dikatakan budaya mereka. Mereka dipengaruhi oleh adat dan
pengetahuan masyarakat dimana mereka tinggal dan dibesarkan, terlepas dari
bagaimana validitas objektif masukan dan penanaman budaya ini pada dirinya.
Individu-individu itu cenderung mengabaikan atau menolak apa yang bertentangan
dengan “kebenaran” kultural atau bertentangan dengan
kepercayaan-kepercayaannya. Inilah yang seringkali merupakan landasan bagi
prasangka yang tumbuh diantara anggota-anggota kelompok lain, bagi penolakan
untuk berubah ketika gagasan-gagasan yang sudah mapan menghadapi tantangan.
Setiap budaya memberi identitas kepada
sekolompok orang tertentu sehingga jika kita ingin lebih mudah memahami
perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam msaing-masing budaya tersebut paling
tidak kita harus mampu untuk mengidentifikasi identitas dari masing-masing
budaya tersebut yang antara lain terlihat pada :
• Komunikasi dan Bahasa
Sistem komunikasi, verbal maupun nonverbal,
membedakan suatu kelompok dari kelompok lainnya. Terdapat banyak sekali bahasa
verbal diseluruh dunia ini demikian pula bahasa nonverbal, meskipun bahasa tubuh
(nonverbal) sering dianggap bersifat universal namun perwujudannya sering
berbeda secara lokal.
•
Pakaian dan Penampilan
Pakaian
dan penampilan ini meliputi pakaian dan dandanan luar juga dekorasi tubuh yang
cenderung berbeda secara kultural.
•
Makanan dan Kebiasaan Makan
Cara memilih, menyiapkan, menyajikan dan
memakan makanan sering berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang
lainnya. Subkultur-subkultur juga dapat dianalisis dari perspektif ini, seperti
ruang makan eksekutif, asrama tentara, ruang minum teh wanita, dan restoran
vegetarian.
• Waktu dan Kesadaran Akan Waktu
Kesadaran akan waktu berbeda antara budaya yang satu dengan budaya
lainnya. Sebagian orang tepat waktu dan sebagian lainnya merelatifkan waktu.
•
Penghargaan dan Pengakuan
Suatu
cara untuk mengamati suatu budaya adalah dengan memperhatikan cara dan metode
memberikan pujian bagi perbuatan-perbuatan baik dan berani, lama pengabdian
atau bentuk-bentuk lain penyelesaian tugas.
•
Hubungan-hubungan
Budaya juga mengatur hubungan-hubungan manusia dan
hubungan-hubungan organisasi berdasarkan usia, jenis kelamin, status,
kekeluargaan, kekayaan, kekuasaan, dan kebijaksanaan.
•
Nilai dan Norma
Berdasarkan sistem nilai yang dianutnya, suatu budaya menentukan
norma-norma perilaku bagi masyarakat yang bersangkutan. Aturan ini bisa
berkenaan dengan berbagai hal, mulai dari etika kerja atau kesenangan hingga
kepatuhan mutlak atau kebolehan bagi anak-anak; dari penyerahan istri secara
kaku kepada suaminya hingga kebebasan wanita secara total.
•
Rasa Diri dan Ruang
Kenyamanan
yang dimiliki seseorang atas dirinya bisa diekspresikan secara berbeda oleh
masing-masing budaya. Beberapa budaya sangat terstruktur dan formal, sementara
budaya linnya lebih lentur dan informal. Beberapa budaya sangat tertutup dan
menentukan tempat seseorang secara persis, sementara budaya-budaya lain lebih
terbuka dan berubah.
•
Proses Mental dan Belajar
Beberapa
budaya menekankan aspek perkembangan otak ketimbang aspek lainnya sehingga
orang dapat mengamati perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam cara orang-orang
berpikir dan belajar.
•
Kepercayaan dan Sikap
Semua
budaya tampaknya mempunyai perhatian terhadap hal-hal supernatural yang jelas
dalam agama-agama dan praktek keagamaan atau kepercayaan mereka.
7.
Asumsi-Asumsi Dalam Komunikasi
Antarbudaya
“Berbicaralah dengan bahasa mereka”.
Jargon ini adalah kunci penting dalam mewujudkan
komunikasi. Seorang komunikator yang baik adalah mereka yang memiliki kemampuan
berbahasa (verbal dan nonverbal) yang dipahami oleh komunikannya. Sitaram dan
Cogdell (1976) menyampaikan, bahwa komunikasi yang efektif dengan orang lain
akan berhasil apabila kita mampu memilih dan menjalankan teknik-teknik
berkomunikasi, serta menggunakan bahasa yang sesuai dengan latar belakang
mereka. Atas dasar uraian di atas, beberapa asumsi komunikasi antarbudaya
didasarkan atas hal-hal berikut :
a.
Komunikasi
antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara
komunikator dengan komunikan.
b.
Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi.
c.
Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi.
d.
Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat
ketidakpastian.
e.
Komunikasi berpusat pada kebudayaan.
f.
Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi
antarbudaya (Liliweri,
2003 : 15)
8.
Faktor Penyebab
Pentingnya Komunikasi Antarbudaya
a.
Mobilitas
Perjalanan seseorang dari suatu negara atau benua ke negara atau benua lain
menyebabkan menyebabkan mobilitas masyarakat di dunia mencapai puncaknya
sehingga hal yang semula adalah hubungan antarpribadi menjadi hubungan
antarbudaya. Hal ini tejadi karena pada saat seseorang mengunjungi suatu daerah
baru maka secara otomatis orang tersebut akan mengenal budaya baru dan orang-
orang yang berbeda seta mencari peluang ekonomis yang ada.
b.
Saling Kebergantungan Ekonomi
Pada saat sekarang ini banyak sekali negara secara ekonomis bergantung pada
negara lain, seperti negara Cina yang semula hanya bergantung pada negara-
negara disekitarnya mulai tergantung pada negara Eropa yang memiliki kebudayaan
yang sama sekali berbeda dengan kebudayaannya. Kehidupan ekonomis suatu negara
yang ada saat sekarang ini sangat bergantung pada kemampuan negara tersebut
untuk berkomunikasi dengan negara lain sekalipun memiliki kebudayaan yang jauh
berbeda.
c.
Teknologi Komunikasi
Peningkatan secara pesat teknologi komunikasi pada saat sekarang ini
membuat komunikasi antarbudaya menjadi lebih mudah, praktis, dan juga tidak
dapat dihindarkan. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya film- film televisi
dari luar yang berasal dari luar negeri sehingga kita dapat mengetahui budaya-
budaya yang ada di negara tersebut serta riwayat dari sejarah suatu negara.
Demikian juga dengan berita- berita mengenai suatu negara yang dapat disaksikan
oleh negara lain. Namun, tidak jarang pula kita melihat berita mengenai
ketegangan rasial, pertentangan agama, diskriminasi seks, dan berbagai masalah
yang ada yang disebabkan oleh kegagalan dari komunikasi antarbudaya.
d.
Pola Imigrasi
Di setiap kota- kota besar terdapat banyak sekali orang- orang yang berasal
dari berbagai negara yang berbeda. Dalam kehidupan sehari- hari kita sering
sekali bergaul dan berkomunikasi dengan mereka. Maka, pengalaman dari pergaulan
kita tersebut menjadi semakin antarbudaya.
e.
Kesejahteraan Politik
Kesejahteraan politik yang ada di suatu negara sangat bergantung pada
kesejahteraan politik kultur atau negara lain. Maka, kekacauan yang terjadi di
belahan dunia lain akan sangat mempengaruhi keamanan negara lain. Dari hal
tersebut, kita dapat melihat betapa pentingnya komunikasi dan rasa saling
pengertian antarbudaya pada saat sekarang ini dibandingkan dengan sebelumnya.
9.
Kesukaran Memahiri Komunikasi Antarbudaya
Komunikasi antarbudaya merupakan suatu bidang yang
sulit untuk dipelajari dan juga diriset apalagi untuk dimahiri. Ada dua hal
yang mengidentifikasikan kesulitan utama dalam memahiri komunikasi antarbudaya
sebagai suatu cara untuk mengilustrasikan lebih jauh mengenai kekhasan dari
komunikasi antarbudaya, yaitu :
a.
Etnosentrisme
Salah satu kesulitan yang kita miliki adalah kita
sering kali mengukur kebudayaan lain yang ada dengan kacamata kultur yang kita
miliki. Etnosentrisme yang merupakan kecenderungan untuk mengevaluasi nilai,
kepercayaan, dan perilaku dalam kultur sendiri lebih baik, lebih logis, dan
lebih wajar dibandingkan dengan kultur lain sangat erat hubungannya dengan
seksisme dan heteroseksisme yang menyebabkan hambatan dalam pemahanan antarbudaya
menjadi sulit diperkirakan.
b.
Kesadaran (mindfulness) dan Ketidaksadaran (mindlessness)
Pada keadaan sadar (mindfulness) seseorang akan
bertindak secara wajar seperti yang dilakukan oleh banyak orang, tetapi pada
keadaan tidak sadar (mindlessness) seseorang akan cenderung tidak wajar dan
sering kali berasumsi yang tidak layak secara intelektual. Misalnya seseorang
yang mengetahui bahwa ada orang yang menderita HIV/ AIDS yang tidak akan
menularkan penyakitnya jika hanya bersentuhan, namun seseorang yang dalam
ketidaksadarannya akan menghindari orang- orang yang menderita HIV/ AIDS tersebut.
c.
Kejutan Budaya
Kejutan budaya
mengacu pada reaksi psikologis yang dialami seseorang karena berada di tengah
suatu kultur yang sangat berbeda dengan kulturnya sendiri. Sebagian dari kejutan
ini timbul karena perasaan terasing, menonjol, dan berbeda dari yang lain. Tahap-tahap
kejutan budaya menurut Kalervo Oberg (1960) :
·
Masa bulan madu
Masa ini pada mulanya terasa
ada pesona, kegembiraan, dengan kultur yang baru dan masyarakatnya. Banyak
turis yang tetap berada pada tahap ini karena masa tinggal mereka di suatu
Negara asing sangat singkat.
·
Krisis
Di tahap ini perbedaan kultur
dengan kultur yang baru menimbulkan masalah. Ini adalah tahap pada mana kita
mengalami kejutan budaya baru yang sebenarnya.
·
Pemulihan
Selama periode ini anda
memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk bertindak efektif. Perasaan tidak
puas anda mulai meluntur.
·
Penyesuaian
Pada tahap akhir ini, anda
menyesuaikan diri dan memasuki kultur baru serta mendapatkan pengalaman baru.
10.
Komunikasi
Lintas Budaya vs Komunikasi Antarbudaya
Menurut Joseph A Devito, dalam bukunya “Communicology
An Introduction To The Study Of Communication”, Harper & Row, New York, 1976 mengatakan bahwa komunikasi
lintas budaya berbeda dengan komunikasi antarbudaya.
Jika komunikasi lintas budaya lebih menekankan
pada perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi diantara peserta komunikasi
yang berbeda kebudayaan, maka studi komunikasi antarbudaya lebih mendekati
objek melalui pendekatan kritik budaya.
Aspek utama dari komunikasi antarbudaya adalah
komunikasi antarpribadi diantara komunikator dan komunikan yang kebudayaannya
berbeda. Tidak masalah apakah kejadian itu terjadi dalam satu bangsa atau antar
bangsa yang berbeda, yang jelas adalah budayanya yang berbeda.
11.
Komunikasi
Internasional vs Komunikasi Transrasial
Selanjutnya untuk menghindari ketumpang
tindihan yang sering terjadi maka selanjutnya kita akan membicarakan kajian
komunikasi internasional. Masih dalam buku karya Joseph A. Devito yang sama,
dijelaskan pula perbedaan antara komunikasi transrasial dengan komunikasi
internasional.
Komunikasi internasional merupakan komunikasi
yang bersifat interaktif yang menggunakan media. Objek formal komunikasi
internasional senantiasa berhubungan dengan media massa yang dianggap sebagai
agen penyebaran berita-berita internasional dari media “sumber” di satu negara
kepada “penerima” di negara lain. Komunikasi internasional pada umumnya
melibatkan dua atau lebih negara di mana produk komunikasi massa disebarkan
melintasi batas negara melalui struktur jaringan komunikasi tertentu.
Secara lebih spesifik, studi-studi komunikasi
internasional dapat dikategorikan atas pendekatan berikut :
·
Pendekatan
Peta Bumi (Geographical Approach) yang membahas arus informasi maupun, liputan
internasional pada bangsa atau negara tertentu, wilayah tertentu, ataupun
lingkup dunia, disamping antar wilayah.
·
Pendekatan
media (media approach), adalah pengkajian berita internasional melalui satu
medium atau multi media.
·
Pendekatan
Peristiwa (Event Approach) yang mengkaji satu peristiwa lewat medium.
·
Pendekatan
Ideologis (Ideological Approach) yang
membandingkan sistem pers antar bangsa atau melihat penyebaran arus berita
internasional dari sudut ideologis semata-mata.
Selanjutnya kita akan
membicarakan tentang komunikasi transrasial. Transrasial berarti melintasi
batas rasial. Dalam antropologi, konsep transrasial ini sama dengan konsep
antar etnik. Smith (1973) mengatakan bahwa kelompok etnik adalah sekelompok
orang yang dipersatukan oleh kesamaan warisan sejarah, kebudayaan, aspirasi,
cita-cita dan harapan, tujuan, bahkan kecemasan dan ketakutan yang sama.
Komunikasi transrasial sebenarnya memiliki
kemiripan dengan komunikasi lintas budaya, hanya saja dalam komunikasi
transrasial lebih diarahkan pada proses komunikasi internasional yang meliputi
komunikasi diantara mereka yang berbeda etnik dan ras. Komunikasi transrasial
bisa berbentuk diadic dan bisa juga berbentuk komunikasi massa.
Ada
empat kategorisasi komunikasi transrasial “diadic” yang didasarkan pada :
·
Kesamaan
kodifikasi, yang meliputi proses pembakuan kode-kode komunikasi / simbol dan
“sign” yang tumpang tindih
·
Kedekatan
pengirim dan penerima
·
Masalah perspektif
·
Keterampilan
umum berkomunikasi
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar